Friday, July 16, 2010

Saatnya Pelindo Melakukan Ekspansi

Yangshan Container Terminal
UU Pelayaran no. 17 tahun 2008 telah diundangan walaupun menuai protes dari karyawan PT. Pelindo namun hingga kini proses terus berjalan.

Seperti contoh mulai dirancang untuk pembentukan Otoritas Pelabuhan (OP) yang mulai akan dibentuk di empat pelabuhan utama di Indonesia yakni Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Soekarno-Hatta Makassar, dan Belawan Medan.  

Apa yang akan terjadi?

Mengingat sangat pentingnya bisnis Pelabuhan bagi masyarakat Indonesia dan tidak terlepas profit yang menggiurkan dalam pelabuhan saya yakin banyak pihak swasta yang sudah mengokang senjata dan menyiapkan amunisi yang tercanggih supaya bisa memasuki zona tempur bisnis pelabuhan di Indonesia dan memenangkanya. Seperti dilansir ANTARA News tanggal 8 April 2010 investor asal negara China akan membangun pelabuhan peti kemas Internasional di Belang-Belang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) pada tahun 2011 mendatang. 

Bagi Pelindo tentu hal ini merupakan dunia baru yang harus dipahami secara CEPAT, TEPAT dan EFEKTIF. Kenapa demikian? Ya, karena Pelindo bukan pelaku baru dalam bisnis ini.Tentunya lebih memahami ceruk pasar yang ada dalam bisnis pelabuhan di Indonesia, namun di dunia PERSAINGAN Pelindo belum teruji. Maksudnya?
  1. Melakukan ekspansi Pelabuhan. Belum terlambat bagi Pelindo untuk mengadakan perluasan pelabuhan. Tidak haram dan tidak harus dipikirkan mahalnya karena ini investasi jangka panjang. Kalau dulu sewaktu masih menjadi anak emasnya Pemerintah mungkin Pelindo masih enteng untuk melakukan ekspansi pelabuhan namun sekarang harus kerja keras untuk melakukannya karena genderang perang bisnis dengan swasta sudah dimulai.
  2. Melakukan ekspansi  jasa-jasa baru dalam bisnis pelabuhan. Pelindo harus cermat dalam menginventarisasi jasa jasa pelabuhan yang sudah ada dan menggali potensi jasa-jasa pelabuhan yang baru.
  3. Melakukan ekspansi pelayanan. Dalam hal ini Pelindo membutuhkan sumberdaya manusia yang peduli dengan kebutuhan pengguna jasa. SDM yang dapat membuat pengguna jasa bertekuk lutut karena PELAYANAN yang SUPER MEMUASKAN pengguna jasa sehingga mereka tidak mau pindah ke lain hati. Sebagai contoh kita buat satu pelabuhan berskala Internasional dengan sistem pelayanan multi service. Selanjutnya kita undang semua perusahaan pelayaran dari seluruh dunia untuk menyaksikan dan membuktikan bahwa mereka masuk ke pelabuhan kita akan lebih efisien untuk perusahaan pelayaran tersebut dibanding yang lain bukan sebaliknya.
  4. Ekspansi di sumberdaya manusia itu sendiri. Untuk dapat memenuhi pelayanan Pelabuhan kelas dunia maka dibutuhkan pendidikan sumberdaya manusia kelas dunia. Maka menyeleksi dan mengirimkan sumberdaya manusia yang sesuai pada bidangnya untuk belajar ke Luar Negeri adalah mutlak harus dilakukan disamping membuka paradigma baru dengan mengintensifkan Diklat Kepelabuhanan di Dalam Negeri bahwa pelayanan yang CEPAT, TEPAT dan EFEKTIF adalah number one CHOICE.   Saya jadi ingat sewaktu mantan PM. Malaysia DR. Mahathir Mohammad dikritik habis-habisan oleh George Soros karena mengambur-hamburkan uang negara untuk membiayai para pelajar Malaysia yang belajar ke Luar Negeri karena konon ditengarai Malaysia mengirimkan paling banyak pelajarnya ke Luar Negeri. Tapi DR. Mahathir Mohammad tetap jalan terus dan hasilnya Malaysia dapat tahan terhadap badai krisis.
  5. Kalau yang terakhir ini saya tidak sebut sebagai EKSPANSI tapi INTEGRASI. Kalau semua sumber daya sudah siap maka kita mau jalan pelan, sedang ataupun berlaripun pasti bisa.Tapi satu syarat harus berjalan dan berlari bersama-sama. Artinya semua sumberdaya  dapat menyatukan VISI dan MISI  perusahaan secara TERINTEGRASI artinya tidak bermain sendiri-sendiri untuk mewujudkan pelabuhan yang kita kehendaki di masa datang.  



Monday, July 12, 2010

Di Balik Tenggelamnya KMP. Tristar

Pada posting kali ini penulis ingin melukiskan pengalaman seseorang yang pernah mengalami musibah dibalik tenggelamnya kapal KMP. TRISTAR di Muara Sungai Musi pada tanggal 28 Desember 2006 Pada awalnya saya tidak sengaja bertemu dengan narasumber berita ini di sebuah tug boat yang sekarang menjalani rute di Palembang - Merak. Mudah-mudahan pengalaman beliau ini dapat bermanfaat buat kita semua.

Namaku Zulkarnaen. Aku bekerja sebagai ABK di kapal Tristar sudah 6 bulan lamanya. KMP Tristar berangkat dari dermaga kapal Penumpang Pelabuhan Palembang pada pukul sekitar 14.30 waktu setempat.  Seperti biasa aku mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan sesuai tugasku di kapal sebagai ABK. KMP Tristar memang agak sedikit binal alias genit kalau terkena pengaruh angin atau ombak. Sepanjang perjalanan mendekati muara sudah malam hari. Sepanjang perjalanan mendekati Muara Sungai Musi kapal tidak henti-hentinya mengoleng terkena ombak tapi aku menganggap hal itu biasa karena memang karekternya begitu. Tidak ada firasat buruk di benakku

Aku membawa hati ini senang supaya beban kerjaku terasa ringan. Pada sekitar pukul 20.00 waktu setempat aku sempatkan untuk membersihkan lantai yang basah di dek atas karena licin supaya tidak mengganggu penumpang yang lalu lalang. Di sebelahku beberapa sopir truk tengah bercengkerama dengan sesama teman seprofesinya sambil sesekali terdengar gelak tawa mereka. Di dek penumpang lain aku melihat seorang ibu sedang menggendong bayinya yang sedang rewel menangis di antara penumpang yang lain. Sesekali aku mengamati cuaca di luar sana. Angin dan ombak semakin membuat KMP Tristar tambah genit saja pikirku. Aku melanjutkan pekerjaanku supaya penumpang semua aman.

Sekitar pukul 20.15 angin bertiup kencang dan gelombang menghantam lambung kapal KMP. Tristar dengan tiba-tiba kapal diterjang ombak pas di tikungan tajam di Muara Sungai Musi dan kapal tiba-tiba miring dengan cepat dan kapal tidak mampu kembali tegak.  Kamipun seisi kapal panik dan berhamburan menyelamatkan diri. Aku dan beberapa sopir truk meloncat ke laut begitu kapal miring tak terkendali. Benar saja kapal itu benar benar miring dan terbalik dalam hitungan menit. Aku dan beberapa sopir berusaha menyelamatkan diri  setelah terjun ke laut sedapat mungkin mengikuti gelombang laut. Aku semakin menjauh dengan rombongan sopir dan penumpang lain yang sudah bercerai berai satu sama lain, ada juga yang sudah tidak tampak lagi di permukaan. Aku menyaksikan teriakan para penumpang yang masih bisa menyelamatkan diri di saat-saat terakhir kapal terbalik dan tenggelam di Muara Sungai Musi.

Aku berusaha menggapai apa saja yang dapat mambantu mengapung tubuh ini di atas air. Aku berusaha bertahan sedekat mungkin dengan dengan para penumpang yang masih bisa mengapung di atas air. Namun satu-satu penumpang lain menghilang dari pengamatanku. Aku berusaha berteriak sekeras mungkin untuk memanggil nelayan. Aduh.., tapi malam itu tidak ada nelayan yang lewat di depanku . Aku terbawa arus ke arah Timur. Badanku semakin dingin dan aku hanya berusaha bertahan supaya dapat mengapung di malam itu. Tak terasa aku sudah terbawa arus air sudah semakin jauh dan tidak ada seorangpun di sekitarku. Rasanya badan ini sudah lemas sekali. Tetapi tiba tiba ada benda keras menghadang di hadapanku.Ya Allah ...ternyata benda keras berjejer itu adalah bagan tempat menangkap ikan milik nelayan lengkap dengan gubuk di atasnya. Saya berusaha sekuat tenaga minta tolong kepada penghuni di atasnya. Namun teriakanku sia-sia seolah tak terdengar oleh siapapun. Akhirnya  kuputuskan untuk merangkul erat-erat tiang itu dan bertahan sambil  menunggu pertolongan siapa tahu ada nelayan lewat.

Entah sudah beraba jam aku merangkul tiang bagan-bagan milik nelayan itu. Yang aku lihat cuaca sudah berangsur terang. Oh... ternyata sudah pagi hari. Sayup-sayup aku mendengar deru mesin perahu klotok nelayan. Suaranya semakin keras mendekat dan benar ternyata seorang nelayan muncul hendak mengecek gubuknya. Begitu melihatku nelayan itu spontan menghampiri dan mengangkat tubuh lunglai ini ke perahu klotoknya.

Melihat kondisiku nelayan itu langsung tanggap dan membawaku ke posko tim SAR di Sungsang. untuk mendapatkan pertolongan. Dalam perjalanan menuju posko kami juga sempat menemukan penumpang lain yang masih selamat kita angkat dari air. Suasana di sekitar tempat kejadian tenggelamnya KMP. Tristar ramai dengan kapal-kapal patroli dari tim SAR dan para nelayan yang sukarela membantu para korban.

Sesampai di posko tim SAR di kecamatan Sungsang kamipun mendapatkan pertolongan dan di data. Saya melihat para korban senasib yang sedang mencari kerabatnya. Saya mendengar juga ada kawan seprofesi saya sesama ABK yang belum diketahui nasibnya. Setelah diadakan pertolongan dan pendataan cukup kamipun diperbolehkan pulang.

Mudah-mudahan pengalamanku ini tidak terulang lagi.




Sunday, May 23, 2010

Musibah Kapal Laut Tenggelam Di Indonesia Dari Masa Ke Masa

KMP. Tampomas II
Tahun 1981
  • Pada 27 Januari - Musibah KMP Tampomas II. Kejadian yang dimulai terbakarnya kapal tanggal 25, merupakan tragedi terbesar saat itu dengan korban diperkirakan 431 orang tewas.     
Tahun 2002  
  •  Pada 20 November - KMP Adidas bertabrakan dengan KMP Sinar Akaba di sekitar perairan Pulau Hari, Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara, sekitar 25 mil arah.    
Tahun 2003
  • Pada 7 September, Kapal Motor Penumpang Wimala Dharma di perairan Selat Lombok, sekitar 4,5 mil laut dari Gili Tapekong, Nusa Tenggara Barat, Minggu (7/9) dini hari sekitar pukul 03.30. 5 orang penumpang meninggal.    
  Tahun 2004     
  • Pada 15 Januari - KM Sutra Alam 02 ditabrak kapal tak dikenal di perairan Sulawesi Tenggara. Usai menabrak, kapal yang tak diketahui identitasnya itu langsung melarikan diri.    
Tahun 2005

  • Pada 8 Juli - Kecelakaan KM Digoel di Laut Arafura. Diperkirakan korban 84 orang ditemukan tewas dan 100-an penumpang belum diketahui nasibnya.    
Tahun 2006
  • Nelayan tewas saat kapalnya tergulung ombak sekitar pukul 00.00 WIB, Sabtu (30/12) di perairan Paciran, Kabupaten Lamongan.  
  •  Pada tanggal 28 Desember - Musibah KM Tristar I yang tenggelam di Selat Bangka. Baru ditemukan 3 mayat terapung. 
Tahun 2007  

  • 22 Februari - Sedikitnya 25 orang tewas setelah KM Levina I jurusan Tanjung Priok–Pangkal Balam, Bangka yang mengangkut 291 penumpang terbakar di Selat Sunda.. 4 orang di antaranya tewas saat melakukan investigasi pada bangkai kapal pada tanggal 25 Februari. Mereka tewas saat bangkai kapal tersebut tenggelam.    
  • 11 Juli - KM Sinar Madinah tenggelam di perairan Laut Selatan Desa Hu'u, Kabupaten Dompu, provinsi Nusa Tenggara Barat. Kapal tenggelam setelah dihempas gelombang setinggi lima meter. Tujuh orang awak kapal sempat terlilit jaring, namun enam orang berhasil menyelamatkan diri. Seorang anak buah kapal hilang bersama jaring yang melilit dirinya.    
  • 11 Juli - KM Wahai Star yang mengangkut sekitar 100 penumpang dan ribuan ton hasil bumi dari Leksula tujuan Ambon tenggelam di perairan antara Pulau Buru dan Ambon.   
  • 18 Oktober - KM Asita III tenggelam pada pk. 20.16 WITA di perairan Selat Kadatua, sekitar 10 mil dari Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, 125 orang selamat, sedikitnya 31 orang meninggal dunia, dan 35 lainnya hilang.    
Tahun 2008  
  • 31 Agustus, Kapal motor penumpang (KMP) Belanak jenis ferry milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) menabrak kapal speed boat milik nelayan pamuge (pembeli ikan di tengah laut) di perairan Pantai Barat tepatnya 1,5 mil dari Pulau Putri arah barat, Minggu (31/8) pagi sekira pukul 05.30 WIB.    
  •  28 Agustus, Kapal Ro-ro Dharma Ferry 3 yang bertolak dari Makassar (Sulawesi Selatan) menuju Balikpapan (Kalimantan Timur), terbakar saat hendak merapat di dermaga Pelabuhan Semayang sekitar pukul 11.00  
  • 18 Mei, Kapal Ro-ro Dharma Kencana dari Semarang menuju Sampit terbakar. Sekitar pukul 12.00 WIB kapal nahas ini terbakar. Lokasi kapal yang terbakar sekitar 20 mil dari pelabuhan Sampit. Evakuasi penumpang atas swadaya Anak Buah Kapal (ABK).    
  • Pada 21 November 2008 Kapal Motor (KM) Intan 78 yang mengangkut 2.200 ton semen dari Jakarta tujuan Palembang, Sumatra Selatan, tenggelam di muara Sungai Musi perbatasan Selat Bangka, Jumat (21/11). Kapal tersebut tenggelam satu jam setelah menabrak sebuah tanker bernama Theresa Jupiter yang sedang menunggu muatan minyak kelapa sawit. Dalam musibah itu semua anak buah kapal yang berjumlah 16 orang selamat.
Tahun 2009
  • 11 Januari - Kapal Motor Teratai Prima 0 tenggelam di Tanjung Baturoro, Sendana, Majene, Sulawesi Barat; dari sekitar 300 korban baru 36 yang berhasil diselamatkan oleh nelayan.
  • 27 Juli - Cahaya Abadi Utama tenggelam di Selat Makassar,Kapal kayu bermuatan 50 ton jagung dan 3.000 tandan pisang berlayar dari Kecamatan Budonbudon, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Selatan dengan tujuan Samarinda pada Senin (27/7) pagi.Semua ABK selamat, tak ada korban jiwa," kata Ajun Komisaris Polisi Handoko 
  • 28 Agustus - Kapal KM Sari Mulia Untuk pencarian korban di hari ketiga, dua mayat kembali ditemukan oleh petugas SAR. Dengan begitu, total korban tewas yang ditemukan sudah mencapai 21 orang penumpang.    
  • 22 November - Kapal laut Dumai Express 10 di perairan Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau yang diakibatkan oleh cuaca buruk. Kejadian tersebut mengakibatkan 28 orang meninggal dunia (rincian terlampir), korban hilang sebanyak 12 orang dan korban rawat inap sebanyak 12 orang di RSUD Tanjung Balai Karimun dan 2 orang di Puskesmas Balai.   
      
Tahun 2011
  • Pada 26 September 2011 Kapal Motor (KM) Marina Nusantara yang mengangkut sekitar 800 penumpang terbakar setelah bertabrakan dengan tongkang yang ditarik Tug Boat Bomas Segara yang membawa muatan batubara. Lokasi tubrukan di Sungai Barito dekat Perairan Pulau Kadap atau sekitar satu jam sebelum kapal merapat di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Tiga penumpang tewas dan ratusan lainnya terluka dalam insiden tersebut.

Semoga menjadikan pelajaran buat kita untuk selalu meningkatkan keselamatan bersama.
 
Sumber artikel: Theunix1, Kaskus  

Wednesday, May 12, 2010

Kapal Motor Sinar Ambon Kandas Di Selat Jaran

KM. Sinar Ambon foto melalui  ECDIS
      Kapal Motor Sinar Ambon kapal milik PT. Samudera Indonesia kandas di Selat Jaran pada 11 Mei 2010 pukul 05.30 Waktu Indonesia Barat tepatnya 15 mil laut Tenggara Pelabuhan Palembang. Kapal tersebut kandas dari pukul 05.30-21.30 waktu setempat.

       Menurut keterangan  nakhoda Kapal Motor Sinar Ambon, Capt. Sambalao Taha, kapal berangkat dari dermaga petikemas Pelabuhan Palembang pada pukul 04.00 dengan perhitungan sarat maksimum 5.5 maka dan ketinggian air terendah di Selat Jaran 3.6m ditambah air pasang di Selat Jaran pada saat itu 2.3m maka dapat lolos melewati Selat Jaran namun kenyataannya kapal kandas.

        Kapal Motor Sinar Ambon yang mempunyai panjang Length Over All (LOA) 98 meter dan berkapasitas mengangkut kontainer sebanyak 287 TEUs itu secara rutin melayari rute Palembang - Singapore dengan frekuensi minimal 2 kali dalam sepekan kapal tersebut singgah di Pelabuhan Palembang.

       Akibat kapal kandas sedikitnya 2 kapal besar yang hendak keluar masuk dari dan ke Pelabuhan Palembang memgalami keterlambatan dari jadwal semula. Kapal yang sempat mengalami keterlambatan adalah Motor Tanker Sultan Mahmud Badarudin II milik PT. Pupuk Sriwijaya yang hendak bertolak ke Gresik sempat berlabuh melintang pabrik South Sumatra Timber (SST) tepatnya 1.5 mil laut dari Selat Jaran. Sedangkan Kapal Motor Belawan/Caraka Jaya Niaga III-38 milik PT. Djakarta Loyd terpaksa berlabuh di Muara Sungai Musi menunggu alur bebas dari kapal kandas.

      Menurut keterangan para petugas pandu dan nakhoda kapal yang sering masuk Pelabuhan Palembang, Selat Jaran merupakan alur yang paling sempit dan dangkal di Sungai Musi. Untuk itu kapal yang akan keluar masuk melalui alur tersebut harus mengatur sarat kapalnya dan memilih waktu yang tepat supaya dapat melewatinya dengan aman kalau tidak kapal rawan kandas.

      Untuk mengantisipasi kapal kandas lebih banyak lagi di masa mendatang perlu diadakan pengerukan  di alur Sungai Musi khususnya di Selat Jaran karena kedalaman air yang terendah di Selat Jaran sekarang hanya 3.6 meter sedangkan di Muara Sungai Musi berkisar 4.4 meter.      



    



             

Monday, March 1, 2010

Terowongan Maut Di Bawah Jembatan Ampera Palembang

Setelah dicabutnya larangan berlayar bagi tug boat (kapal tunda) yang menarik batubara melewati jembatan Ampera dari Administrator Pelabuhan Palembang tanggal 19 Februari 2010 karena alasan keselamatan pelayaran, menambah penasaran saya untuk meliput pemanduan tug boat batubara sampai ke areal penumpukan batubara milik PT. Batubara Bukit Asam yang berada di Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan.

Pada edisi kali ini saya akan menyajikan postingan yang berjudul Terowongan Maut Di Bawah Jembatan Ampera Palembang. Sebentar, anda akan saya bawa menyusuri Sungai Musi di kota Palembang menggunakan satu kendaraan yang jarang atau mungkin tidak pernah anda bayangkan sebelumnya dan anda akan kami bawa memasuki terowongan maut di Sungai Musi, Palembang. Kendaraan apa? Tug boat menarik sebuah tongkang dengan muatan batubara sebanyak  8000 ton.

Apa dan kenapa saya sebut Terowonagn Maut?  Kita sebut terowongan  maut karena kalau kita akan memasuki terowongan tersebut dengan kendaraan air yang saya sebut di atas kita tidak boleh  melakukan kesalahan sedikitpun karena akibatnya bisa fatal. Maut berada di atas kepala kita kalau kita sampai menabrak jembatan dengan kendaraan tongkang panjang 300 feet atau sekitar 91.5 meter dengan muatan 8000 ton  batubara di atasnya.

Terowongan Maut itu adalah ikon kota Palembang, Sumatera Selatan yaitu jembatan Ampera. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan ini bisa disebut “Golden Gate” nya Indonesia.


Struktur Jembatan Ampera :
Panjang                     : 1.117 m (bagian tengah 71,90 m)
Lebar                         : 22 m
Tinggi                         : 11.5 m dari permukaan air
Tinggi Menara            : 63 m dari permukaan tanah
Jarak antara menara : 75 m
Berat                          : 944 ton

Perjalanan kita akan dimulai dari areal penumpukan batubara milik PT. Bukit Asam, di Kertapati, Palembang. Di Kertapati inilah tongkang raksasa yang sudah diisi muatan 8000 ton batubara tersebut diikat guna menunggu antrian memasuki Jembatan Ampera menuju Dolphin Pelabuhan Palembang guna melanjutkan perjalanan ke luar dari Pelabuhan Palembang menuju Pelabuhan berikutnya.

Perjalanan kita akan menggunakan Tug boat Marina 9 yang dipandu oleh Capt. Anari Balemo.  Setelah TB. Marina 9 mempersiapkan tali tundanya untuk menggandeng tongkang Indopower, TB. Marina 9 pun mulai bergerak pelan meninggalkan areal penumpukan batubara terbesar di Sumatera Selatan milik PT. Bukit Asam tersebut.. Arus Sungai saat ini berkisar 2 knot. Sementara nakhoda TB. Marina 9 dan Pandu Bandar sepakat untuk mengatur panjang tali towing untuk persiapan tongkang Indopower aman memasuki jembatan Ampera. Sementara di belakang Tongkang Indopower membantu sebuah tug boat untuk menjaga kestabilan jalannya tongkang yaitu TB. Kathelia.

Perjalanan ke tempat penumpukan batubara Kertapati yang berjarak sekitar 3.7 mil akan menempuh waktu sekitar 45 menit perjalanan dengan kecepatan kapal 5 knot. Kapal mulai bergerak dengan kecepatan setengah. Dari jauh kita akan melihat pemandangan jembatan ampera dengan lalu lintasnya yang tidak pernah sepi. Begitu kapal kita yang menarik tongkang perlahan mendekat, saya merasa ragu kalau kapal beserta tongkang tersebut dapat bebas dari atap jempatan tersebut. Kapal tambah mendekat, saya melihat nakhoda kapal dan pandu bandar Capt. Anari Balemo terus berkonsentarasi memandangi terowongan jembatan tersebut dan mengatur gerakan kapal beserta tongkang sarat muatan 8000 ton batubara tersebut agar benar-benar dapat melintas tepat ditengah-tengah terowongan. "Kita bisa bebas dari atap jembatan, Captain? saya bertanya. "Harus bisa!" Capt Anari menjawab.

Benar saja, kapal pelan tapi pasti memasuki terowongan maut Jembatan Ampera. Bersamaan dengan waktu melintas tadi dipantau jarak aman dari atas kapal ke Jempatan Ampera sekitar setengah meter saja.Ya setengah meter. Dari tug boat Kathelia yang membantu di belakang tongkang batubara menginformasikan melalui radio bahwa tongkangnya sudah bebas dari terowongan.

Kita bisa bayangkan apabila kendaraan dengan muatan 8000 ton batubara tersebut dengan kecepatan 5 knot tidak tepat memasuki terowongan dan menabrak tiang jembatan, wooow jangan sampai hal ini terjadi karena akibatnya bisa fatal. Tapi resiko itulah yang yang harus ditanggung oleh pandu bandar Palembang guna melancarkan arus tranportasi batubara dari areal penumpukan batubara milik PT. Bukit Asam di Palembang tersebut.




Tuesday, January 26, 2010

Pac Acrux Kapal Terbesar Yang Masuk Pelabuhan Palembang

-->
Kita mengetahui bahwa Pelabuhan Palembang adalah salah satu Pelabuhan Sungai yang terbesar di Indonesia dengan lalu lintas kapal kapal yang tidak pernah sepi.

Pelabuhan Palembang berjarak sekitar 55 mil atau 101 kilometer dari Muara Sungai Musi. Dengan jarak yang panjang disertai alur sungai yang berliku dengan variasi kedalaman alur tersebut mempunyai karakteristik tersendiri dan tentunya membatasi besarnya kapal yang akan memasuki Pelabuhan Palembang. Hal ini tentu berbeda dengan pelabuhan-pelabuhan yang berada di tepi laut lepas.

Namun demikian untuk memberikan pelayanan yang maksimal, Pelabuhan Palembang bekerjasama dengan  pengguna jasa  akan tetap mendatangkan kapal-kapal masuk Pelabuhan Palembang lebih banyak lagi

Salah satu wujud kerja sama tersebut adalah dengan hadirnya kapal yang terbesar singgah di Pelabuhan Palembang yaitu Pac Acrux, Pac Antares, Pac Alnath, Pac Alkaid, Pac Altair dan Pac Deneb. Kapal milik Perusahaan Acrux Maritime Limited yang beralamat di Group Legal SG House 41 Tower Hill London, EC3N4SG United Kingdom dan dioperasikan oleh Paccship (UK) yang beralamat di 19 Buckingham Gate, 4th Floor London SW1E6LB United Kingdom tersebut secara rutin paling lama tiga pekan sekali secara bergiliran memasuki Pelabuhan Palembang.

Pac Acrux kapal yang dibangun di Zhejiang Shipyard, China pada Mei 2003 itu berbendera Singapore dengan dengan panjang LOA 178.8 m gross tonage GT 20.471 dengan bobot mati DWT sebesar 27.419,68 MT dengan maksimum draft 10.4 M. Sedangkan untuk masuk ke Pelabuhan Palembang Pac Acrux masuk Pelabuhan Palembang dengan draft maksimum 5.4m.

Pac Acrux secara rutin masuk Pelabuhan Palembang guna memuat komoditi karet untuk diekspor ke Amerika serikat. Jumlah muatan karet yang biasanya dimuat di Pelabuhan Palembang sebanyak kurang lebih 4000 ton. Adapun proses pemuatan komoditi karet tersebut dilakukan melalui tongkang yang tender di kapal tersebut di rede Gerong 1, Palembang.

Pac Acrux mempunyai crew sejumlah 23 orang terdiri dari 19 orang warga negara China dan 4 orang warga negara Philiphine dengan dinakhodai oleh Lin Shan berkewarganegaraan China.

Adapun rute pelayaran Pac Acrux dari Pelabuhan Palembang melanjutkan pelayaran ke Ciwandan Cigading kemudian Padang dan melanjutkan pelayarannya ke Houstan dan New Orleans Amerika Serikat. Perjalanan dari Padang Indonesia ke Houstan Amerika Serikat biasanya ditempuh selama 25-28 hari tergantung keadaan cuaca dalam perjalanannya kata Lin Shan nakhoda kapal Pac Acrux saat singgah ke Pelabuhan Palembang pada tanggal 20 Januari 2010.



Baca juga :








Sunday, January 10, 2010

Lagi, Pelaut Indonesia Gugur di Medan Tugas


Satu khabar memprihatinkan kembali menggema di telinga kita. Sebanyak 13 pelaut kita menjadi korban tenggelamnya kapal "Ocean Lark" sebuah kapal AHTS (Anchor Handling Tug Service) di perairan Tanjung Berakit, Kepulauan Riau.

Seperti berita yang dilansir ANTARA tanggal 6 Januari 2010 menyebutkan bahwa tug boat "Ocean Lark" tenggelam diperkirakan sekitar pukul 10.00 WIB sampai 11.00 WIB di perairan Tanjung Berakit Bintan pada hari Rabu (6/1) di titik koordinat 01 20.00 N-104.40.00 E.

Menurut ANTARA Tim SAR gabungan Indonesia dan Singapura korban ditemukan meninggal sebanyak tujuh orang sampai hari Sabtu tanggal 9 Januari 2010 sedangkan korban hilang yang masih dicari menjadi empat orang dan 2 orang dinyatakan selamat.

Menurut keterangan bangkai "Ocean Lark" masih bisa terlihat bagian kapal yang nampak adalah bagian belakang (buritan), sedangkan sebelumnya yang nampak adalah bagian samping kapal.

Berdasarkan informasi yang dilansir KOMPAS tanggal 13 Januari 2010 mengatakan bangkai kapal "Ocean Lark" yang tenggelam Rabu di perairan Tanjung Berakit, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) akan segera dievakuasi ke daratan.

Menurut KBRI Indonesia di Singapura pihak berwenang akan segera mengevakuasi bangkai kapal seiring dengan keputusan tim SAR untuk menghentikan proses pencarian korban hilang sampai hari Rabu, tanggl 13 Januari 2010.

Tim SAR gabungan Indonesia dan Singapura yang melakukan upaya pencarian 13 korban tenggelamnya kapal Ocean Lark (semuanya merupakan warga negara Indonesia) memutuskan untuk menghentikan pencarian pada Rabu.

Seluruh korban yang ditemukan selamat maupun meninggal langsung dibawa ke Singapura untuk proses identifikasi dan dikembalikan ke Indonesia untuk dikebumikan.

Lima korban tewas telah diidentifikasi dan dikebumikan di Indonesia pada 9 Januari antara lain, Cornelius Selano asal Manado dan Sjamsuddin Sabri asal Makassar.

Tiga korban tewas lainnya, Artinus Donari dan Alfa Rambi asal Makassar serta Agustinus Taloko asal Jakarta telah dikebumikan pada 12 Januari 2010 sedangkan dua jenazah lagi yang belum teridentifikasi dan masih berada di Rumah Sakit Umum Singapura.

Sumber : ANTARA dan KOMPAS